Di Balik Sosok Kinan, Eka Prasetya Sang Penulis Layangan Putus yang Diselingkuhi dan Berhasil Move On

Serial Web Layangan Putus (WeTV) belakangan ini ramai dibicarakan dan viral di dunia maya. Menjadi sorotan, karena serial web ini mengangkat tema perselingkuhan yang diangkat dari kisah nyata. Ada tiga tokoh utama di sini yang menjadi pusat perhatian kita, Kinan (Putri Marino), istri yang diselingkuhi suaminya. Aris (Reza Rahardian) sang suami yang berselingkuh, dan Lydia (Anya Geraldine) si pelakor.

Sosok Kinan di serial ini dibangun berdasarkan pengalaman nyata seorang wanita bernama Eka Nur Prasetyawati atau dikenal Mommy ASF, yang tak lain penulis novel “Layangan Putus”. Diterbitkan pada 2020 lalu. Ya, Kinan di dunia nyata adalah Eka, dengan akun instagran @ecaprasetya dengan jumlah pengikut, 130 ribu follwers.

Kisah Eka pernah viral di sosial media pada tahun 2019. Eka kala itu bercerita soal rumah tangganya secara beruntun di sosial medianya, bagaimana pahitnya mengetahui sang suami telah lama berselingkuh darinya. Padahal kehidupan rumah tangganya terasa adem ayem saja, bersama suami dan keempat anaknya. Ia meluapkan kepedihannya lewat tulisan. Tak sangka, tulisannya viral, hingga dijadikan novel di tahun 2020.

Eka memakai nama pena Mommy ASF dalam novelnya ini. Betapa novelnya disukai. Hingga kisahnya diangkat ke layar kaca oleh rumah produksi MD Entertainment. Makin banyak yang mengenal, dan salut padanya, bagaimana ia bisa mentransfromasi kepahitan itu menjadi hal yang positif. Makin banyak juga, yang penasaran soal keluarganya.

Tetapi Eka meminta publik untuk tak mengorek lagi masa lalunya. Ini karena, setelah insiden pilu itu, hari ini, Eka dan mantan suaminya masih menjalani hubungan baik, demi anak-anaknya. Diselingkuhi, dibohongi memang menyakitkan, sungguh menyakitkan. Dan ini memang menjadi nuansa dari kisah “Layangan Putus”. Namun, Eka berpesan juga pada penonton, agar mengambil hikmah dari cerita ini. Bagaimana akhirnya seorang perempuan harus bisa bangkit kembali, dan move on. Jangan hanya terfokus pada kepahitan sebuah perselingkuhan.

Dikhianati itu sakit. Sangat sakit. Tetapi Eka bisa berdamai dengan kenyataan ini, dan bisa tetap berteman saat ini dengan mantan suami. Bagaimana caranya? Banyak perempuan, susah untuk move on. Hingga butuh sesuatu dulu, butuh pengganti dulu, butuh pria lain dulu untuk masuk ke kehidupan kita, baru bisa move on. No, kita tidak butuh sesuatu apapun, bahkan pria lain–untuk move on. Ini namanya pelampiasan. Tidak menyelesaikan masalah hati yang terluka.

Kita perlu memaafkan, mengampuni. Ya, ada waktunya sakit. Berikan waktu pada hatimu, hingga luka itu mengering. Selanjutnya, kita harus menerima kenyataan. Memang, tak semudah membalikkan telapak tangan atau semudah kita bicara. Cobalah jujur pada diri sendiri, dia telah mengkhianatimu. Dia tidak mencintaimu lagi. Kalau cinta, kenapa mengkhianatimu? Kalau memang sudah tidak ada cinta, untuk apa memaksakan diri? Kasihan diri ini. Ampuni dia. Tentunya bukan dengan kekuatan sendiri, tapi dengan kekuatan dari Allah. Move On, karena kamu menyayangi dirimu. Tidak membiarkan dirimu terpuruk, dan terluka hingga menyedihkan!

Move on, karena kamu berharga. Karena kamu masih memiliki orang-orang yang menyayangimu. Keluargamu, anak-anakmu, sahabatmu. Setelah bisa mengampuni, maka hati akan “plong” Setelah “plong”, dan berdamai dengan kepahitan itu, maka bukan tak mungkin kita bisa berteman dengan mantan. Mampukah kita belajar untuk berdamai dengan kepahitan?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*